Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Mei 2012

Jangan Ceritakan Wanita Lain Pada Suamimu


Islam itu indah. Keluarga dalam Islam itu indah. Islam ingin menjaga keluarga agar tetap indah. Islam memberikan tuntunan agar suami hanya mencintai istrinya, dan istri hanya mencintai suaminya. Islam juga memberikan tuntunan agar istri menjaga cinta suaminya, tanpa “tergoda” oleh “cinta” wanita lainnya. Diantaranya adalah, larangan menceritakan keadaan/sifat detail wanita lain kepada suami tercinta.

Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak boleh seorang wanita memperhatikan wanita lain, lalu ia menceritakan sifatnya (secara detail) kepada sang suami, seolah ia melihatnya secara langsung.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar Al Asqalani ketika menjelaskan hadits ini dalam Fathul Baari mengatakan bahwa diantara hikmahnya adalah dikhawatirkan suami menjadi tertarik terhadap wanita yang diceritakan itu, hingga akan menimpakan fitnah bagi wanita yang menceritakan dan yang diceritakan.

Dr. Muhammad Ali Hasyimi dalam bukunya Syakhshiyah Al-Mar'ah Al-Muslimah menjelaskan, wanita dilarang menceritakan detail wanita lain kepada suaminya karena Islam menginginkan agar setiap jiwa hidup tenang, setiap hati merasa damai, tidak terganggu pikiran atau hayalan yang menggoda. Islam mengharapkan setiap orang menjalani hidupnya dengan damai, tentram, tidak terbebani; mudah beramal dan beraktifitas, pikirannya tidak sibuk membandingkan istrinya dengan wanita lain, konsentrasinya tidak terganggu dengan hiasan palsu, jiwanya tak goyah, kompetensinya tak terganggu akibat memikirkan kata-kata “imajinasi” yang dapat menjerumuskan dirinya ke dalam jurang fitnah dan kesesatan.

Maka engkau, wahai para istri, berhentilah berkata kepada suamimu: “Si fulanah itu bang, orangnya putih, hidungnya mancung, cerdas pula,” dan sejenisnya.

Kadang ada juga istri yang tanpa sengaja membandingkan wanita lain agar suami membelikan sesuatu atau memberikan nafkah lebih banyak: “Si bunga itu Mas, sekarang makin anggun. Soalnya jilbabnya bermerek X, jubahnya beli di Y, dan kosmetiknya Z. Sekarang ia juga memakai cincin baru model XYZ. Mas kan pingin aku cantik, beliin dong.”

Ibunda kaum mukminin Aisyah Radhiallahu 'anha sangat khawatir terhadap perkara tersebut, sehingga ia mewanti-wanti para wanita yang menemuinya: “Jangan sekali-kali engkau ceritakan keadaanku kepada suamimu" (Diriwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab Al-Mushannaf dengan sanad shahih).[AN]

Rabu, 02 Mei 2012

Rumah yang Menyejukkan


Dua laki-laki itu bekerja di sebuah kantor yang sama. Namun keduanya berbeda dalam memandang keluarga.

Laki-laki pertama sangat mencintai keluarga. Saat-saat pulang kerja dan berkumpul keluarga di rumah adalah saat-saat yang dirindukannya. Hingga suatu hari ketika ia jatuh sakit, ia lebih memilih bed rest di rumah daripada dirawat di rumah sakit. "Di rumahku ada cinta yang membuat sakitku insya Allah lebih cepat sembuhnya."

Dan benar. Atas kehendak Allah, ia sembuh dengan cepat. Sakit memang memaksanya beberapa hari tidak masuk kerja. Namun sakit itu juga mengokohkan cintanya. Dalam pandangannya, istri yang merawatnya adalah perawat terbaik sedunia. Bubur yang dibuatnya adalah bubur cinta. Dan sapaan buah hati kecilnya adalah motivasi pemulihan fisik dan jiwa.

Laki-laki kedua tak suka berlama-lama di rumah. Rasanya bikin bete, katanya. Saat ia telah keluar dari rumah sakit karena suatu penyakit yang dideritanya, ia memaksa masuk kerja. "Di rumah malah stres," alasannya saat ditanya seorang teman mengapa tak istirahat di rumah saja. Mengapa sampai berkata seperti itu? Ternyata ia tak suka dengan istrinya yang "cerewet" dan terkesan kurang perhatian. Entah siapa yang mendahului, kabarnya mereka tak lagi saling cinta.

Kini kita hidup di sebuah masa yang kaya kesibukan. Kebutuhan hidup yang makin berkembang, perubahan zaman, hingga arus informasi "menuntut" kita menggeluti kesibukan demi kesibukan. Seringkali kita menjadi seperti mesin; semakin banyak beraktifitas semakin panas. Panas jiwa kita, gersang ruhiyah kita. Jika pada kondisi demikian kita memposisikan keluarga sebagai sahara lain yang menguras tetes-tetes ketenangan, betapa hidup akan menjadi sangat runyam.

Berbahagialah jika keluarga kita adalah rumah yang menyejukkan. Jika kita memandang keluarga sebagai surga dunia. Dan begitulah mestinya keluarga Muslim mencontoh keluarga Nabi. "Baiti jannati." Rumahku adalah surgaku. Betapapun cadasnya kehidupan di luar sana, saat keluarga menjadi surga dunia, tak masalah seorang Muslim menghadapinya. Betapapun panasnya medan perjuangan, keluarga adalah penetralisir dan penyejuknya.

Ketika Rasulullah "ketakutan" dengan Jibril yang baru saja menyampaikan wahyu, sang istri Bunda Khadijah menyelimuti, menenangkan dan memotivasinya. Ketika Rasulullah dihadapkan pada perjuangan besar menyebarkan Islam, lagi-lagi sang istrilah yang menghamparkan seluruh hartanya untuk mendukung dakwah. Saat Rasulullah menghadapi ancaman, bunda Khadijah dengan kedudukannya yang mulia menjadi "pelindung" yang memperkuat posisi kemananannya. Pendek kata, Khadijah selalu ada untuk Rasulullah, demikian pula cinta Rasulullah selalu hadir untuk Khadijah; bahkan meskipun setelah beliau tiada.

Rumah tangga Rasulullah dengan istri-istrinya yang lain juga begitu; indah dan menyejukkan selalu. Kadang ada cemburu, namun ia adalah bumbu yang membuat cinta semakin mesra. Baiti jannati kemudian diucapkan oleh lisan suci Nabi, menggambarkan betapa rumah tangga idealnya adalah sumur kebahagiaan di tengah keringnya kemarau kehidupan, taman yang menyejukkan di tengah penatnya perhelatan sejarah, oase di tengah gurun.

Keluarga akan menjadi surga atau neraka, semuanya berawal dari kita. Dari persepsi kita, dari cara pandang kita, dari pemahaman dan bagaimana kita memposisikan. Bukan dari menyalahkan pasangan. Maka mari kita menumbuhkan komitmen, bahwa kita akan memberikan yang terbaik untuk pasangan kita, untuk keluarga kita. Kita berkomitmen menjadi yang terbaik bagi mereka. Kita berkomitmen mempersembahkan cinta buat mereka. Dan biarlah doa-doa kita naik kepada Allah, meminta ijabahnya untuk juga memperbaiki pasangan dan keluarga kita. [Muchlisin]

Rabu, 11 April 2012

Bahagianya Bila Terus Bahagiakan Istri

Rasa Bahagia, Jika Bisa Membahagiakan Istri." Banyak pasangan bertanya, bagaiamana tips agar kita dapat membahagiakan pasangan kita? Kita tidak akan bahagia selagi orang di sisi kita tidak ikut bahagia. Itulah kuncinya. Impilikasinya, agar kita bahagia, carilah orang yang paling dekat dengan kita dan bahagiaakanlah mereka. Setelah itu, barulah kita akan merasa bahagia. Sesungguhnya bahagia itu bukan "benda" yang akan berkurang bila diberikan, tetapi ia seumpama cahaya yang semakin "diberikan" akan bertambah sinar terangnya. Ada kata orang bijak pandai, “dengan menyalakan lilin ke orang lain, lilin kita tidak akan padam... tetapi kita akan mendapat lebih banyak cahayanya.”

Siapakah orang –orang terdekat dan yang paling layak kita berikan kebahagiaan? Selain kedua ibu-bapa, maka para suami harus membahagiaan istrinya. Karena ialah yang paling utama harus mendapatkan kebahagiaan itu. Jika istri kita tidak merasa bahagia, jangan harap kita dapat membahagiakan orang lain. Dan paling penting, jika istri sudah menderita itu juga pertanda kita juga akan ikut menderita. Ingat, kita tidak akan bahagia selagi orang di sisi kita tidak ikut menikmati kebahagiaan.

Apakah langkah pertama untuk membahagiakan istri? Pertama, hargailah kehadirannya. Rasakan benar-benar bahwa si dia adalah anugerah Allah yang paling berharga. Jodoh kita itu merupakan anugrah yang telah dikirim Allah khusus sebagai teman hidup kita sepanjang masa ketika hidup di dunia ini.  Karena itu, jangan pernah sia-siakan ia.

Ingatlah bahwa yang paling berharga di dalam rumah kita bukannya perabot, bukan peralatan eletronik, komputer ataupun barang-barang antik yang lain. Yang paling berharga ialah manusianya, istri atau suami kita itu. Itulah" modal insan" yang sewajarnya lebih kita hargai daripada segala-benda yang mudah rusak itu. Masalahnya, benarkah kita telah menghargai istri melebihi barang-barang berharga di rumah kita?

Sayang sekali, kadang lain difikiran lain pula yang dirasa. Coba renungkan, berapa banyak para suami yang lebih prihatin keadaan kendaraan mewahnya atau barang-barang berharganya dibanding perasaan istrinya. Batuk istri yang berpanjangan seolah tidak ikut ia (suami) rasakan, dibanding  "batuk" kendaraan pribadinya. Jika mobilnya suaranya aneh, ada sedikit kerusakan, para suami cepat-cepat membawanya ke tempat resvice mobil. Sementara jika sakit istrinya, ia tak segera buru-buru mengantarkan  ke dokter atau rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan.

Bila kendaraan terdengar/terasa sedikit 'aneh', cepat-cepat dibawa ke bengkel, namun jika istrinya yang batuk-batuk, malah dibiarkan. Alasannya, itu batuk biasa,  atau tanda badan sudah tua.

Banyak pria memilih menjadi  'workoholic'. Ia bekerja siang, malam, tak kenal cuti dan istirahat. Bila ditanya mengapa ia begitu sibuk? Dia menjawab, “ini demi anak dan istri.” Padahal, ketika pulang ke rumah, waktunya juga bukan untuk anak dan istrinya. Yang ada, ia justru mengabaikan istri.

Ada suami yang hobi memancing setiap akhir pekan. Sementara di saat yang sama, ia membiarkan anak-anak dan istrinya kesepian di rumah. Padahal saat itulah waktu luang yang mereka tunggu selama ini agar bisa berasama-sama setelah semua harinya dihabiskan di kantor dan tempat kerja.

Di sekitar kita banyak orang aneh. Ada yang mencari duit sampai tidak sempat menikmati duit. Bila duit sudah terkumpul, kesehatan sudah tergadai, rumah tangga sudah berkecai, istri malah ikut terabai.

Jadi bagaimana kita dapat mengharagai pasangan kita? Insya-Allah, bila ada kemauan pasti saja ada jalan. Dunia akan menyediakan jalan kepada orang yang bersungguh-sungguh. Kata orang, kasih, cinta dan sayang seumpama aliran air, senantiasa tahu ke arah mana ia hendak mengalir. Mulakan dengan memandangnya dengan perasaan kasih, mungkin wajah istri kita sudah berkerut, tetapi rasakanlah mungkin separuh "kerutan" itu karena memikirkan kesusahan bersama kita. Mungkin uban telah penuh di kepalanya, tetapi uban itu "tanda bukti" pengorbanannya dalam membina rumah tangga bersama kita. Itulah pandangan mata hati namanya.

Kalau dulu semasa awal bercinta, pandangan kita dari mata turun ke hati. Tetapi kini, setelah lama bersamanya, pandangan kita mesti lebih murni. Tidak dari mata turun ke hati lagi, tetapi sudah dari hati "turun" ke mata. Jika saat pertama kita terpaut karena "body", kinia yang kita lihat lebih jauh  lagi, namanya “budi”. Yang kita pandang bukan lagi urat, tulang dan daging lagi... tetapi suatu yang murni dan hakiki – kasih, kasihan, cinta, sayang, mesra, ceria, duka, gagal, jaya, pengorbanan, penderitaan – dalam jiwanya yang melakarkan sejarah kehidupan berumah tangga bersama kita!

Daripada pandangan mata hati itulah lahirlah sikap dan tindakan. Love is verb, cinta itu tindakan, kata penyair. 

Para suami kaya pulang bersama cincin permata untuk menghargai si istri. Atau petani hanya membawa sebiji mangga untuk dimakan bersama sang "permaisuri". Buruh yang pulang bersama keringat disambut senyuman dan dihadiahkan seteguk air sejuk oleh istri tentunya lebih bahagia dan dihargai oleh seorang jutawan yang disambut di muka pintu villanya tetapi hanya oleh seorang "orang-orang yang digaji".

Begitulah ajaibnya cinta yang dicipta Allah, ia hanya boleh dinikmati oleh hati yang suci. Ia terlalu mahal harganya. Intan, permata tidak akan mampu membeli cinta!

Hargailah sesuatu selagi ia masih di depan mata. Begitu selalu pesan cerdik-pandai dan para pujangga. Malangnya, kita selalu lepas pandang. Sesuatu yang 'terlalu' dekat,  kadang lebih sukar dilihat dengan jelas. Sementara yang jauh terkesan jelas. Istri di depan mata, tidak dihargai, tapi orang lain nun jauh dipuji-puji. Kajian menunjukkan bahwa para suami di Amerika lebih banyak meluangkan masa menonton TV daripada bercakap dengan istrinya. Bayangkanlah, tiga jam menonton TV bersama tanpa sepatah-katapun pada istri atau keluarga, apa untungnya? Padahal istri dan anaknya duduk bersebelahan dengannya hanya beberapa inci.

Bahkan jika kita di rumahpun, kadang lebih sibuk ber SMS dengan orang lain. Malam SMS kadang, SMS  ke teman lebih banyak dibanding jika ia SMS dengan istri jika sedang berada di luar atau di kantor. No news is a good news. Begitu seharusnya , rasa di hati kita. 

Hidup terlalu singkat. Hidup hanya sekali. Dan yang pergi tak akan pernah kembali lagi. Yang hilang, mungkin tumbuh lagi... Tetapi tidak semua perkara akan tumbuh seperti semula. Apakah ibu-bapa yang 'hilang' akan berganti? Apakah anak, istri, suami yang 'pergi'... akan pulang semula? Jadi, hargailah semuanya selama segalanya masih ada di dekat kita. Pulanglah ke rumah dengan ceria, tebarkan salam, lebarkan senyuman. Mungkin esok, anda tidak 'pulang' atau tidak ada lagi si dia yang selama ini begitu setia menunggu kita di  balik pintu. Mungkin Anda 'pergi' atau dia yang 'pergi'. Karenanya, hargailah nyawa dan raganya dengan dengan perasaan sayang dan cinta. Sebab hakekatnya kita tidak akan bahagia, selagi orang di sisi kita tidak bahagia!*

Pahrol Mohamad Juoi, penulis dan motivator parenting, tinggal di Malaysia
Dikutip dan Update Judul oleh situs Dakwah Syariah
Sumber : iluvislam
Rep: Muhammad Usamah
Red: Cholis Akbar


Rating: 5

Jumat, 06 April 2012

Aku Mencintaimu Karena Allah


Istriku.....
9 tahun yang lalu.. ku ingat waktu itu, 6 April 2003
saat akad nikah..
Kulantunkan senandung Qur'an terindah sebagai salah satu maharnya
kurasakan ketenangan, dan kabahagiaan saat itu
belahan jiwaku sudah kutemukan dan harapanku membumbung tinggi
aku berharap rumah tangga kita dicucuri sakinah dari sang Maha Rahman

Ku ingat saat kulantunkan doa keberkahan di atas keningmu
ku ingat sholat dua rakaat setelah akad nikah
tiada lain.. kita menikah karena inginkan ridho-Nya
tiada lain.. kita menikah karena ingin sempurnakan agama ini
tiada lain .. kita menikah karena dakwah
di jalan inilah aku menikah
dan dijalan inilah aku semai harapan

Kini tak terasa...
9 tahun t'lah berlalu
cepat sekali rasanya...
bukannya tanpa onak dan duri jalan ini
jalan ini berkelok dan ujungnya jauh, bahkan tak terlihat
dengan engkau disampingku..
ku hadapi perjalanan ini dengan senyum
kita sambut hari esok dengan mekarnya senyuman
kau relakan dirimu tinggal dirumah
meninggalkan segala aktifitasmu sebagai seorang wanita karir
tuk mendidik buah hati kita
yang sebentar lagi menginjak remaja

Sungguh aku tak salah pilih
Wanita sepertimulah yang banyak dicari
Wanita speertimulah yang diperebutkan banyak orang
Wanita sepertimulah yang melahirkan generasi unggulan

Terimakasihku padamu wahai istriku
Sungguh mulia hatimu
Sungguh lembut pekertimu
Semoga Alloh tetapkan surga untukmu
Sungguh.....
Aku mencintaimu karena Allah
Auckland, 06 April 2012

Penulis : Abu Arkan
Student di University of Aukland, New Zealand (NZ)
Aktif di kegiatan dakwah kampus dan masyarakat Indonesia di Auckland, New Zealand