Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Mei 2012

Persahabatan Sampai ke Surga


Jariku menari indah untuk mengetik sebuah pesan singkat pada sahabatku lewat handphone.
"Assalammu'alaikum... gimana kabar iman antum hari ini akhi..?? semoga Alloh berikan yang terbaik buat antum dan keluarga. Gimana tilawahnya..?? lancar..??"

Kukirim pesan itu, kepada seorang sahabatku, sahabat yang melebihi persaudaraan sedarah. persahabatan yang diikat oleh sebuah motivasi, sebuah ikatan yang sangat kuat... aqidah.

Tak berapa lama HP-ku berbunyi. Sebuah pesan dari seberang.
"Wa'alaikumsalam.... Alhamdulillah baik akhi. Jazakalloh sapaan antum. Di kondisi seperti ini ana butuh sapaan ikhwah seperti ini. Ana kangen antum...."

Subhanalloh...tak terasa air mata ini menetes, sapaan dari hati akan sampai juga ke hati.

Kurasakan ada beban yang sangat berat menimpa sahabatku diujung sana.
"Ya Alloh... semoga Kau ringankan beban saudaraku, jika dia sakit maka ikhlaskan dia, gugurkanlah dosa-dosanya. Jadikan ujian yang Kau berikan sebagai penambah imannya pada-Mu". Itulah sebait doaku untuknya...

Hampir empat tahun kami bersama di sebuah daerah terpencil, bekerja di sebuah perusahaan batubara, di kalimantan Timur. Suka dan duka kami jalani berdua, mungkin tidak hanya berdua, banyak... bahkan keluarga kami begitu dekat. Pahit dan getir, canda dan tawa kami lewatkan bersama dalam mengarungi perjalanan panjang dakwah di sana. Siang hari, kami bekerja untuk mencari nafkah, malamnya kami gunakan untuk syuro agenda-agenda dakwah esok hari, minggu depan bahkan agenda bulan depan. Tak jarang kami harus pulang lewat tengah malam, berboncengan motor berdua. Sungguh sebuah nikmat yang luar biasa....nikmat ukhuwah.

Aku tak akan lupa sosok itu, sosok yang sederhana, tapi punya pemikiran jauh ke depan tentang dakwah ini. Pribadi yang selalu siap menerima amanah dakwah di manapun, apapun dan kapanpun.

Kuingat ketika kami mendapat amanah mengisi taujih di sebuah SMA terpencil yang terletak puluhan kilometer dari dari tempat kami tinggal.
"Akhi... dulu Rasululloh perjuangannya lebih berat dari ini, dicaci maki, dilempari kotoran dan ditekan mentalnya", begitu ujarnya saat berada di tengah jalan.

Semangatnya mengingatkanku untuk lebih kuat lagi menerima amanah dakwah di daerah yang baru aku tinggali sekarang.

Kini hampir lima tahun aku tidak bertemu dengannya. Dulu... di saat hati ini membutuhkan penguatan, dialah yang datang menguatkan, atau kadang sebaliknya. Di saat aku butuh perhatian, dia juga yang rajin me-mutaba'ah amalan-amalan harianku
dengan sms-smsnya. Ya Alloh... semoga kau tetapkan iman di dadanya.
"Tetapi aku tahu sahabat, kaupun juga manusia biasa" lirihku
Kadang kau semangat, tetapi kadangkala ruhiyahmu turun. Kuharapkan dengan membaca suratku ini, kau ingat saat-saat kita bahu membahu bekerja di markas dakwah sampai tengah malam, dan harapanku, ingatan itu menjadi kenangan manis
ukhuwah kita.

Aku tahu kadang senyummu tak terbalas oleh qiyadahmu dan oleh sahabatmu di sana, tetapi percayalah seyummu akan menjadi hiasan di surga-Nya. Kutahu keringatmu membanjir arena amanah dakwah yang kau emban, tapi semoga keringatmu akan menjadi pemadam bara api neraka. Aku tahu airmatamu kadang menetes, tapi semoga tetesannya akan menyuburkan bumi ini dengan munculnya mujahid-mujahid baru yang siap menerima tanggungjawab dakwah.

Sahabatku...di saat kau merasa kesepian... ingatlah bahwa Allah sangat dekat.
Sahabatku.. di saat kau merasa berat menajalani hidup ini, ingatlah jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Ingatlah sahabatku, seberat apapun beban yang kau pikul saat ini, Gusti Allah tidak tidur, Alloh tidak dzalim padamu.
sahabatku... kuingin sapaanku ini mengobati rasa rindumu....
Kuingin sapaanku ini mengobati galau hatimu di kala kau membutuhkan sentuhan hati yang tulus..
Kuingin sapaanku ini menjadi pelipur lara tatkala tak seorang ikhwahpun memperhatikanmu.
Karena kuyakin engkaupun manusia yang butuh perhatian seorang sahabat, berbagi suka dan duka dalam mengarungi jalan panjang dakwah ini.
Sahabatku semoga suatu saat kita bertemu, kalaupun tidak di sini, di dunia ini.. semoga Allah mempertemukan kita di surga-Nya. Semoga persahabatan kita sampai ke Surga.. amiin []

*Teruntuk sahabatku di Balikpapan yang sedang berjuang mendapatkan izzahnya*

Penulis : Edy Sudarmadi
Student @University of Auckland, NZ

Kamis, 03 Mei 2012

Jika Allah Telah Mencintai Kita


Sahabat, mari kita bayangkan, betapa amat sangatnya Allah akan mencintai kita ketika kita mampu menjadi orang-orang tegar yang menjalani hidup, mampu mengeluarkan sisi-sisi terbaiknya walau di saat sempit, mampu tetap terbang meninggi melebihi langit di angkasa meski raga masih tertahan di bumi, mampu untuk tetap berdiri setegar karang meskipun ia seringkali dihempas ombak. Bayangkan kawan, bayangkan, betapa Allah amat sangat sangat mencintai diri kita yang seperti itu, yang mempersembahkan seluruh kekuatan ini hanya untuk-Nya dan menghabiskan seluruh perjalanan hidupnya hanya untuk ketakwaan pada-Nya.

"(Tidak), hanya kepada-Nya kamu minta tolong. Jika Dia menghendaki, Dia hilangkan apa (bahaya) yang kamu mohonkan kepada-Nya, dan kamu tinggalkan apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)." (QS. Al-An’am ayat 41)

Dan bukankah seluruh shalat kita, hidup kita, ibadah kita, dan mati kita hanya untuk-Nya?

"Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)'." (QS. Al-An’am ayat 162-163)

Jika Allah SWT sudah mencintai kita sepenuhnya, lantas apa sih yang akan kita cari lagi?
Dunia... digenggam
Kelapangan... diraih
Keridhoan... dicapai
Kesembuhan dari penyakit... dikabulkan
Banyak teman dan dicintai banyak orang... tidak salah lagi

“Milik-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar ayat 63)

Maka percayalah sahabat, tiada yang lebih mulia daripada membuat Allah mencintai kita dengan mendatangkan ridho-Nya terus-menerus dalam perilaku diri kita.

Dan mari kita terus-menerus bayangkan. Ketika Allah sudah mencintai kita sedalam-dalamnya yang tiada bisa kita bayangkan, pastinya Allah akan memberi kita surga-Nya, bahkan mungkin surga Firdaus yang tiada bandingannya. Tempat di mana tak ada keletihan di sana, senda gurau yang tiada berguna, percakapan yang sia-sia, dan berbagai macam perhiasan dunia yang telah Allah berikan kepada kita saat ini.

Dan mari kita melangkah lebih jauh lagi, ketika di sana (surga) Allah menyingkap wajah-Nya yang menampakkan begitu besar keagungan-Nya dan keindahan-Nya (yang tidak mampu digambarkan bagaimana indahnya dan memang takkan pernah mampu), kita akan menjadi makhluk-Nya yang amat sangat beruntung. Betapa tidak??? Ya, karena semua yang ada di dunia ini pada hakikatnya tidak akan bisa mengalahkan keagungan zat-Nya.

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az-Zumar ayat 67)

Dan mari kita bayangkan sekali lagi, sekali lagi, dan berkali lipat lagi, bahwa kekayaan dan kesenangan di surga (surga dengan tingkatan yang paling rendah sekalipun) takkan sanggup tersaingi dan disaingi oleh dunia yang amat pendek waktu hidupnya, yang kecil jangkauannya, dan yang sangat kerdil kenikmatannya ini.
makanan
minuman
pasangan hidup dan orang tua
harta, warisan,dan jabatan
relasi, teman, sahabat
kesehatan
dan segala macam kemakmuran hidup lainnya

Mari kita lihat, sahabat, amatlah tidak bisa disandingkan kenikmatan-kenikmatan yang ada di dunia tersebut dengan kenikmatan yang ada di surga nanti. Anugerah yang akan dipersembahkan hanya untuk kita yang bertakwa di jalan-Nya.

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata,'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati. Mereka itulah para penghuni surga, kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-Ahqaf ayat 13-14)

dan juga untuk orang yang berusaha keras meraihnya

"Dan kemudian dikatakan kepada orang yang bertakwa,'Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?' Mereka menjawab,'Kebaikan'. Bagi orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (balasan) yang baik. Dan sesungguhnya negeri akhirat pasti lebih baik. Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga-surga 'Adn yang mereka masuki, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam (surga) itu mereka mendapat segala apa yang diinginkan. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), 'Salaamun'alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan'." (QS. An-Nahl ayat 30-32)

"Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, serta ampunan dan rahmat. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An-Nisa ayat 95-96)

Maka jika Allah sudah mencintai kita sepenuhnya, apalagi yang kan kita cari? Lagi-lagi, kita tidak perlu bersusah payah menjemput dunia, tetapi dunialah yang akan menghampiri kita. Ya, karena amatlah mudah bagi Allah untuk membuat dunia tunduk kepada kita karena dunia selalu dalam genggaman-Nya dan senantiasa dalam kuasa-Nya. Allah-lah yang Mahakuasa menciptakan dan menyebabkan segala sesuatunya terjadi.

Oleh karena itu, betapa dahsyatnya kecintaan Allah kepada kita tatkala kita mempersembahkan diri kita untuk dakwah ini di sepanjang jalan ini, berupaya dengan keras agar seluruh hamba-Nya bertakwa kepada-Nya, menjadi perantara atas masuknya hidayah Allah kepada berjuta-juta orang yang ada di dunia ini, dan menginfakkan seluruh rezeki kita di jalan-Nya, Allahuakbar!

Ya, karena manusia yang paling mulia di hadapan-Nya adalah orang yang bertakwa. Lantas, bagaimanakah orang yang bertakwa itu? Yaitu orang yang tidak hanya berjuang untuk men-takwakan dirinya (membuat dirinya bertakwa), tetapi juga membuat diri semua orang bertakwa kepada-Nya, mencintai-Nya, dan orang-orang yang tidak hanya berhenti memikirkan bagaimana ia dicintai Allah, tetapi juga ia senantiasa berpikir agar bagaimana Allah bisa meridhoi seluruh hamba-Nya yang ada di alam raya ini (membuat semuanya berislam secara keseluruhan dan akhirnya mencintai Allah sepenuhnya). Ya, memang ini amatlah berat, tetapi pasti bisa dan pasti, karena kita akan tetap dan terus bergerak, berjalan, dan berlari tiada henti hanya dengan naungan pertolongan-Nya dan kekuatan dari-Nya.

“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali Imran ayat 160)

“…Padahal kekuatan itu hanyalah dari bagi Allah, Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (QS. Al-Munafiqun ayat 8)

Dia-lah yang berkuasa untuk kita semua.

Jika sudah ada Allah, mengapa harus mencari yang lainnya??? []


Penulis : Shabrina Farha Nisa
Mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB)
Program Studi Kimia - angkatan 2008

Selasa, 03 April 2012

Cinta yang Memuliakan


Hati-hatilah agar tak terjebak dengan cinta yang membuat kita menjadi tak mulia. Disergapi dengan perangkap-perangkap syaitan. Dibumbui oleh bisikan-bisikan jahat iblis yang menginginkan kita terjerumus ke lembah nista. Cinta yang tak disadari telah menghancurkan kehidupan, menghempaskan masa depan, mencabik-cabik harapan dan menurunkan status kemuliaan kita sebagai hamba Tuhan.

Sesungguhnya, kumbang tidak akan pernah mengisap sari bunga yang belum mekar. Lebah pun demikian, hanya mengambil sari bunga yang sudah siap dipetik. Begitulah kehidupan cinta antara dua insan. Saling mengisi dan memberi ketika sudah tiba saatnya cinta itu dibingkai dengan syariat pernikahan. Apapun yang kita lakukan telah menjadi sesuatu yang halal dan mendatangkan pahala. Bukan cinta terlarang ala pacaran. Maka kalau kau menginginkan berpacaran, lakukan itu sepuas-puasnya setelah kau menikah dengannya.

Maka akhirilah pacaran yang justru membuat hidup kita tak produktif. Banyak waktu yang sia-sia hanya untuk memikirkan seorang. Bukankah banyak orang lain yang harus kita cintai. Kalau kita mencintai orang lain yang didasari oleh rasa cinta kepada Allah SWT maka Allah akan mencintai kita. Kehidupan memang seperti itu, memberi; dan efeknya akan kembali.

Ada banyak hal yang harus kita lakukan. Ada banyak ilmu yang belum kita kuasai. Ada banyak keahlian yang belum kita gapai. Ada banyak peluang amal yang belum kita raih. Ada banyak orang yang perlu kita nasehati. Ada banyak masjid kosong yang perlu kita penuhi. Ada banyak orang yang belum pandai mengaji yang harus diajari. Ada banyak pengemis di jalanan yang harus disantuni dan diajari keahlian. Ada banyak lautan kebaikan yang belum kita seberangi. Ada banyak tantangan kehidupan yang belum kita daki. Ada banyak orang yang harus kita bahagiakan. Bagaimana mungkin masa muda yang singkat ini kita isi dengan pacaran yang jelas-jelas membuat hidup kita terpasung? Setiap hari memikirkan dia. Ketika makan memikirkan dia. Ketika berjalan memikirkan si dia. Ketika belajarpun memikirkan dia. Bahkan ketika sholatpun masih sempat-sempatnya memikirkan dia. Di mana cinta kepada Allah kau letakkan? Ke mana cinta kepada Rasullah kau hanyutkan? Akan ke manakah cinta kepada orang tua simpan? Dan hendak ke mana cinta kepada sesama kan kau terbangkan?

Ketahuilah, hidup kita amat bergantung kepada Allah. Udara segar yang kita nikmati setiap waktu semuanya adalah karunia Allah SWT. Mudah bagi Allah jika tarikan nafas kita tersendat dengan pilek atau mungkin membuat kita harus bernafas dengan bantuan tabung oksigen. Sesungguhnya amat banyak yang harus kita syukuri dalam hidup ini. Bahkan lebih banyak dari hamba Allah yang harus kita cintai. []


Penulis : Sardini Ramadhan
Pendiri KPK (Komunitas Pena Khatulistiwa), Publik Manager SBS (Sang Bintang School)
Blog: akhiarden-sardini.blogspot.com

Senin, 02 April 2012

Allah Pasti Mengabulkan Doa Kita

Tahun 2007, aku pindah ke Jakarta. Kemudian menyusullah keluargaku untuk bersama-sama hidup di ibukota. Untuk sementara waktu kami harus mengontrak rumah dulu. Selama kurang lebih 1,5 tahun, kami menempati rumah kontrakan yang cukup strategis.

Seiring perjalanan waktu, kamipun ingin memiliki rumah sendiri. Mulailah kami mencari rumah yang kira-kira terjangkau oleh kemampuan kami. Karena kami bekerja di sekitar Jakarta Selatan maka harapan kami dapat rumah sekitar daerah tersebut.

Kami mencoba mencari yang cocok dan lokasinya dekat. Sekitar satu tahun semenjak kami mengontrak, kami mulai mencari rumah tersebut. Kami coba cari ke arah Jagakarsa, Depok, Ragunan, Cipete, Bintaro, Pertukangan, Swadhanrma, Ulujami, hingga Kebayoran Lama. Alhamdullilah, kini kami mendapatkan rumah di daerah Almubarok Cipulir.

Mendapatkan rumah itu, tidak semudah menceritakannya. Rumah pertama yang ingin kami beli sebenarnya telah cocok dengan keinginan kami. Bangunan rumah yang berlokasi di daerah pertukangan itu sesuai selera kami, namun secara finansial kondisi keuangan kami kurang.

Selang beberapa bulan kemudian, kami menemukan rumah yang cocok dan finansial mendukung. Namun ternyata, si pemilik rumah sulit bertemu dengan kami. Ada yang lumayan cocok tapi ternyata sudah ada keduluan orang lain membelinya.

Kami tidak putus asa. Terus berusaha dan mencari. Di daerah Bintaro ada rumah dijual yang cocok bagi kami. Ketika besuknya kami akan membayar tanda jadi, ternyata sudah ada orang yang membayar Down Payment-nya lebih cepat dari kami. Kami yakin segalanya berjalan atas kehendak Allah. Pun berikutnya, ketika setiap kami akan membayar DPnya ternyata selisih jam sudah ada yang membayar terlebih dahulu.

Kami terus berusaha dan senantiasa berdoa. Kami memohon kepada Allah SWT agar kami dikaruniai rumah yang memenuhi lima kriteria:
1. Strategis (mudah transportasi, lokasi kerja, sekolah)
2. Dekat dengan rumah Allah (Masjid/Musholla)
3. Aman (bebas bencana apa pun seperti banjir, bangunan kokoh, ada listrik, air dll)
4. Warga sekitarnya bisa menerima kehadiran keluarga kami
5. Harga rumah itu terjangkau oleh kemampuan kami

Doa itu yang selalu kami panjatkan seusai shalat; baik shalat malam maupun shalat fardhu.

Sementara itu, kontrakan kami tinggal tiga bulan lagi. Si pemilik sudah menanyakan apakah kami mau memperpanjang atau tidak. Rasa bimbang pun menyelimuti hati kami. Akhirnya kami putuskan tidak memperpanjang dengan segala resiko, tiap akhir pekan kami mencari rumah.

Waktu terus berjalan. Kini tinggal dua bulan lagi umur kontrakan ini. Namun kami belum juga mendapatkan rumah yang cocok untuk kami beli. Sampai akhirnya, kami kami melihat di situs web site ada rumah yang dijual. Kami datangi rumah tersebut dan subhanallah... ternyata rumah itu sangat sesuai dengan doa yang kami panjatkan setiap hari.

Kami pun masuk ke rumah itu dan terjadilah tawar menawar harga. Alhamdullilah, kami menyepakati harga tersebut, karena ada jaminan dari suatu bank bahwa kredit kami bisa cair sejumlah harga rumah.

Ketika bank melakukan apprasial/survey, kami mendapatkan ujian lagi. Plafon kredit yang diberikan bank ternyata jauh dari harga rumah tersebut. Dua bank swasta menyatakan hal serupa. Saat kami telusuri ke pihak marketing, menurut mereka weak point kami cukup banyak.

Kami sempat merasakan getar kebimbangan akan pertolongan Allah. Kami sempat lupa bahwa masih ada Allah yang maha segalanya... Astaghfirullah... ampuni kami ya Allah karena sempat melupakanMu saat itu walau sekejap. Kebimbangan itu membuat kami merasa semua jalan tertutup sudah dan harapan kami kian mengecil.

"Allaahu akbar... Allaahu akbar!" suara adzan menyadarkan kami. Di dalam masjid itulah kami berdoa memohon pertolongan-Nya. Kami merasakan betapa kecil dan lemahnya manusia, dan kembali menyadari betapa luar biasa kekuasaan-Nya.

Seusai shalat, kami mencoba menghubungi bank lainnya. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan. Tiga hari setelah persyaratan terpenuhi, bank datang untuk survei. Subhanallah walhamdullilah... Allah mengabulkan doa kami. Jumlah KPR yang disetujui bahkan melebihi harapan kami.

Atas pertolongan Allah sematalah, kini kami memiliki rumah idaman keluarga, dan dimudahkan Allah dalam membayarnya.

"Ya Allah sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, sifat bakhil dan penakut serta cengkraman hutang dan orang-orang/makhluk-makhluk yang menindas kami…" Doa ini menjali amalan kami; setiap pagi dan petang kami panjatkan.

Untuk semua saudaraku, yakinlah Allah pasti mengabulkan doa kita; asalkan kita yakin, fokus, dan sungguh-sungguh dalam berusaha. Man jadda wajada. []

Penulis : Arief "Crabkenari" Aryanto